Seperti apa psikologi masyarakat kita tentang negaranya, Indonesia, jika setiap hari tersaji informasi-informasi yang menyebarkan aura khawatir, marah, sedih, kecewa, apatis, putus asa, dan seabrek aura negatif lainnya? Dalam teori connecting, Edward L. Thorndike mengatakan, rasa itu sesungguhnya akan mempengaruhi secara langsung dan tidak langsung pada diri dan orang sekitarnya.

Nah, bisa dibayangkan, jika setiap hari kita disuguhi informasi dan kabar dengan aura di atas. Tentu secara langsung dan tidak langsung akan berpengaruh pada penerima informasi dan kabar tersebut. Kemudian, aura itu bisa mempengaruhi dirinya sendiri. Lalu orang yang terpengaruh ini akan bisa mempengaruhi orang di sekitarnya lagi. Persis seperti orang yang mabuk perjalanan dan muntah, maka orang di sekitarnya bisa terpengaruh dan ikut muntah. Terus menyebar dan terkoneksi satu sama lain.

Jika hal itu terjadi pada masyarakat kita tentang Indonesia, alangkah berbahayanya kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini. Bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang apatis, masyarakatnya cepat putus asa, mudah kecewa, suka marah, selalu khawatir, dan lain sebagainya.

Simak ini. Ketika aparat penegak hukum yang terlalu lembek dengan kejahatan, kemudian terekspos setiap hari kejadian demi kejadian, akibatnya akan muncul rasa apatis masyarakat pada penegak hukum kita. Putus asa bagi mereka yang terpedaya hukum pun akan terjadi. Bagi yang bersifat pemberani dan ngawur, mereka akan marah pada aparat penegak hukum dan bisa membuat keputusan sendiri dengan ’’hukum rimba pribadi’’. Lantas bagi yang tersangkut masalah hukum, kekhawatiran akan selalu menghantui mereka.

Itu baru satu contoh. Di mana contoh itu kemudian ter-connecting dengan semua hal yang kurang baik sedikit demi sedikit. Maka sebaran koneksi itu akan membawa akibat yang luar biasa pada masyarakat kita.

Pertanyaannya, bagaimana jika aura negatif itu tersaji dalam informasi dan kabar yang setiap saat kita terima dan diterima masyarakat kita? Di pihak lain bad news telah menjadi ’’dewa’’ informasi, sehingga selalu dikategorikan good news? Anda semua akan bisa merasakan sendiri jawabnya dengan mengamati, merasakan, dan mencermati masyarakat di sekitar Anda.

Bangsa kuat dengan rakyatnya yang penuh optimisme, empati, kerendahan hati, berpikir tenang dan rasional, sabar tapi tegas, serta pemerintahan yang tegas, adil, dan jujur akankah terwujud? Rasanya jika terus-terusan seperti itu kita perlu berusaha keras mewujudkannya. Karena apapun yang terjadi sekarang, masyarakat kita selalu membicarakan hal-hal yang bersifat apatis, kecewa, sedih, dan khawatir setelah melihat, mendengar, dan mengamati informasi, kabar, dan banyak fenomena di negeri ini.

Di sisi lain, kita butuh optimisme yang kuat untuk bersaing dengan negara lain. Di balik kecemasan, kekhawatiran, dan keputusasaan masyarakat itu juga masih banyak sekali keberhasilan dan prestasi yang bisa menularkan aura positif. Banyak sekali positive news yang bisa membuat bangsa kita menjadi bangsa dengan rakyat yang penuh optimisme.

Di sinilah jurnalisme positif dan bagus berperan penting. Peran itu antara lain menyampaikan informasi, kabar, dan fenomena yang membangun semangat, sehingga aura yang ditimbulkan juga sangat-sangat positif. Ikhtiarnya membangun masyarakat Indonesia yang kuat dan penuh optimisme.

Jurnalisme positif bukan sekadar memuji, tapi bagaimana menyampaikan informasi yang bagus itu dengan baik dan informasi yang tidak baik itu dengan bagus. Jurnalisme positif dan bagus juga sangat memegang kode etik jurnalistik, elemen-elemen dasar jurnalisme, nilai-nilai berita, dan aturan perundang-undangan yang mengatur pers. Di sini kami menyebutnya jurnalisme yang positif dan bagus.

Di sini TIMESINDONESIA.CO.ID meletakkan prinsip jurnalismenya dalam menjalankan tugas menyampaikan informasi setiap hari. Ini pula ikhtiar TIMESINDONESIA.CO.ID untuk ikut memperbaiki mental bangsa Indonesia melalui informasi dan kabar. Semoga bermanfaat dalam menciptakan aura positif di negeri ini. (*)